C. kelainan pada system kekebalan tubuh

Jumat, 26 Februari 2010

Kelainan pada system kekebalan bervariasi dari yang ringan seperti alergi sampai yang serius seperti penolakan pencangkokan organ, defisiensi kekebalan, serta penyakit autoimun.
1. alergi
Alergi (hipersensitif) disebabkan oleh respons kebal terhadap beberapa antigen. Antigen-antigen yang dapat menimbulkan suatu tanggapan alergi dikenal sebagai allergen (penyebab alergi).
a. reaksi alergi cepat
reaksi alergi cepat, seperti alergi akibat tersengat lebah, alergi terhadap tepung sari atau hewan kesayangan, disebabkan oleh mekanisme kekebalan humoral. Kekebalan tersebut diperantarai oleh sekresi antibody ke cairan tubuh untuk melawan antigen penyerbu. Reaksi hipersensitif cepat ini diakibatkan oleh produksi zat antibody IgE. Ketika seseorang terkena zat penyebab alergi, antibody IgE akan terikat pada sel-sel darah putih yang berisi histamine, yaitu bahan kimia yang menyebabkan gejala alergi yang umum, seperti hidung basah, mata berair, dan bersin. Jika lokasi ikatan antara antigen dengan sel darah putih terisi oleh alergen, maka sel-sel darah putih akan melepaskan histamin.
b. reaksi alergi lambat
reaksi alergi lambat dikenal sebagai delayed-type hypersensivitas atau DTH, contohnya kasus orang yang keracunan tumbuhan menjalar ‘ivy’ atau pohon ek beracun. Contoh DTH ekstrim terjadi ketika makrofag tidak dapat dengan mudah menghancurkan unsur penyerbu. Akibatnya, sel T diaktifkan sehingga menyebabkan peradangan pada jaringan tubuh. Radang ini terus berlanjut sepanjang sel T diaktifkan.

2. penolakan transplantasi
System kekebalan mengenali dan menyerang apapun yang secara normal berbeda dari unsur yang ada di dalam tubuh seseorang, bahkan unsur yang hanya sedikit berbeda, seperti organ dan jaringan yang dicangkokkan. Penolakan transplantasi dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu penolakan hiperakut, akut, dan kronis.
a. penolakan hiperakut
penolakan tipe ini segera terjadi begitu transplantasi dilakukan, contohnya pada transplantasi ginjal. Penolakan hiperakut dapat diatasi dengan cara mencangkokkan organ pada resipien yang memiliki golongan sama dengan donor.
b. penolakan akut
penolakan akut biasanya terjadi beberapa hari setelah transplantasi. Untuk mengatasi hal ini, biasanya pada resipien diberikan obat, seperti siklosporin yang mempengaruhi respons molekul MHC resipien terhadap donor.
c. penolakan kronis
penolakan kronis terjadi karena organ yang ditransplantasikan kehilangan fungsi yang disebabkan oleh darah beku pada pembuluh dalam organ.

3. AIDS (Acquired Immunodeficiency syndrome)
Suatu penyebab infeksi yang menurunkan kekebalan secara fatal adalah HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus tersebut menyebabkan kasus AIDS dengan menginfeksi dan secara cepat menghancurkan sel-sel T penolong. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah suatu sindrom menurunnya system kekebalan tubuh. AIDS termasuk penyakit menular seksual (PMS).

4. defisiensi imun
Defisiensi system kekebalan (imun) dapat diperoleh dari keturunan. Defisiensi yang diwariskan tersebut umumnya mencerminkan kegagalan pewarisan suatu gen kepada generasi berikut sehingga dihasilkan makrofag yang tidak mampu mencerna dan menghancurkan organisme penyerbu, contohnya adalah severe combined immunodeficiency (SCID). Penderita SCID mengalami kekurangan limfosit B dan T, sehingga harus tinggal dilingkungan steril agar tidak terkena infeksi.

5. penyakit autoimun
Ketika suatu penyakit autoimun menyerang, system kekebalan akan menyerang organ atau jaringannya sendiri seolah-olah mereka adalah unsur asing. Penyakit autoimun sering terjadi pada kasus kencing manis dan demam rematik.

sumber : buku biologi 2 for senior high school year xi : yudhistira , buku biologi untuk SMA kelas xi : erlangga

B. Imunisasi

Imunisasi (vaksinasi) adalah satu metode untuk membangkitkan kekebalan dalam tubuh manusia terhadap penyakit tertentu dengan menggunakan mikroorganisme, seperti bakteri atau virus yang telah dimodifikasi atau dilemahkan. Mikroorganisme tersebut bersifat sebagai perangsang terhadap system kekebalan tubuh untuk membangun satu mekanisme pertahanan yang secara berkelanjutan menjaga tubuh dari serangan penyakit.
Ilmuwan mengembangkan dua pendekatan imunisasi, yaitu imunisasi aktif yang memberikan imunitas jangka panjang dan imunisasi pasif yang memberikan imunitas sementara.
1. imunisasi aktif
Imunisasi aktif dilakukan dengan menyuntikkan vaksin yang berisi antigen tertentu ke dalam tubuh untuk membangun system kekebalan. Antigen merupakan suatu substansi yang ditemukan dalam organism penyebab penyakit dan system imunitas tubuh mengenalinya sebagai benda asing.
Sebagai tanggapan atas antigen, system imunitas akan mengembangkan zat antibody ataupun sel darah putih jenis limfosit T yang merupakan sel penyerang khusus. Beberapa imunisasi memberikan perlindungan lengkap terhadap suatu penyakit seumur hidup. Jenis lain memberikan perlindungan parsial, artinya bahwa orang yang diimunisasi hanya mendapat kekebalan sementara. Beberapa jenis imunisasi memerlukan suntikan ulangan secara periodik, misalnya suntikan tetanus yang disarankan setiap 10 tahun sekali seumur hidup.
Imunisasi aktif dapat dilaksanakan dengan menggunakan suatu organisme yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga hanya memberikan sedikit risiko yang menyebabkan penyakit, tetapi masih mampu membangun system pertahanan tubuh untuk melawan penyakit. Misalnya untuk melindungi tubuh dari demam kuning, campak, cacar, dan banyak penyakit lain yang disebabkan oleh virus.
Imunisasi dapat juga terjadi ketika seseorang menerima suntikan dari mikroorganisme yang dinonaktifkan atau dibunuh sehingga relative aman, tetapi masih berisi antigen. Misalnya polio, tipus, dan difteri.
Beberapa vaksin hanya menggunakan bagian dari tubuh suatu organism penyebab infeksi yang masih berisi antigen, seperti protein dinding sel dan flagellum. Vaksin jenis ini dikenal sebagai vaksin aselular, misalnya untuk radang selaput otak. Versi vaksin yang lebih baru digunakan untuk batuk rejan.

2. imunisasi pasif
Imunisasi pasif dilakukan tanpa menyuntikkan antigen jenis apapun. Dalam metode ini, vaksin berisi zat antibody yang diperoleh dari darah suatu hewan atau manusia yang diimunisasi secara aktif. Zat antibody ini dapat melindungi seseorang dari penyakit tertentu hanya ungtuk dua sampai tiga minggu. Walaupun berumur pendek, tetapi imunisasi ini memberikan perlindungan dengan segera atau lebih cepat, misalnya untuk kasus keracunan makanan kaleng dan rabies.

sumber : buku biologi 2 for senior high school year xi : yudhistira , buku biologi untuk SMA kelas xi : erlangga

A. struktur anatomi dan komponen sistem kekebalan

Manusia dan hewan mempunyai system untuk mempertahankan tubuh dari penyakit yang dikenal dengan system imunitas. Ada dua jenis system imunitas, yaitu :

1. imunitas bawaan (imunitas nonspesifik)
Merupakan garis pertahanan pertama terhadap semua pengganggu. Bagian utama tubuh yang berfungsi sebagai imunitas bawaan adalah kuit, air mata, dan air liur.
A. perlindungan permukaan
Kulit dan membrane mukosa merupakan lapis pertama pertahanan tubuh. Selama kulit tidak rusak, epitelium yang berlapis keratin ini sulit ditembus oleh mikroba. Keratin yang melapisi epitelium kulit juga tahan terhadap asam dan basa lemah serta racun dan enzim bakteri. Apabila mikroba dapat menembus kulit, membrane mukosa yang menghasilkan lendir akan menjerat mikroba tersebut. Perlindungan yang dihasilkan oleh kulit dan membran mukosa adalah sebagai berikut.
• Hasil sekresi kulit cenderung bersifat asam (pH 3-5), sehingga menghambat pertumbuhan bakteri. Minyak (sebum) pada kulit mengandung zat kimia yang beracun bagi bakteri.
• Mukosa lambung mengandung larutan HCl dan enzim pencerna protein. Kedua zat tersebut dapat membunuh mikroorganisme.
• Ludah dan air mata mengandung lisozim, yaitu enzim penghancur bakteri.
• Lendir yang lengket akan memerangkap mikroorganisme yang masuk ke saluran pencernaan dan saluran pernapasan.

B. kekebalan dalam tubuh
Jika mikroba berhasil melewati penghalang permukaan tubuh maka masih ada penghalang berikutnya yang siap melawannya. Penghalang yang dimaksud adalah perlindungan dalam tubuh yang bersifat nonspesifik. Nonspesifik artinya penghalang tersebut melawan semua patogen tanpa membeda-bedakan. Perlindungan nonspesifik mencakup antara lain fagosit, sel natural killer (sel NK), dan protein anti mikroba.
• Fagosit
Sel yang termasuk fagosit (sel pemakan) misalnya makrofag, neutrofil, dan eosinofil. Makrofag berasal dari monosit, yang merupakan bagian dari sel darah putih. neutrofil dan eosinofil juga meupakan dari sel darah putih. Monosit, neutrofil dan eosinofil yang dihasilkan disumsum merah bersifat fagositik dan masuk ke jaringan yang terinfeksi. Eosinofil merupakan fagosit yang lemah, tetapi berperan penting dalam pertahanan tubuh melawan cacing parasit.

Mekanisme fagositosis

A. Proses fagositosis:
Proses fagositosis bermula dengan perlekatan bahan seperti bakteria kepada fagosit. Bahan yang ditelan akan berada dalam fagosom. Fagosom akan melakur dengan lisosom dan membentuk fagolisosom. Radikal-radikal oksigen dan enzim-enzim proteolisis akan dirembeskan ke dalam fagolisosom untuk mencerna bahan asing dan memusnahkan bahan tersebut. Hasil percernaan akan dikumuhkan keluar dan sebahagian dari bahagian-bahagian kecil akan dipersembahkan kepada limfosit untuk mengaktifkan limfosit.

• Sel natural killer (sel NK)
Sel NK berjaga di system peredaran darah dan limfatik. Sel NK merupakan sel pertahanan yang mampu melisis dan membunuh sel-sel kanker serta sel tubuh yang terinfeksi virus sebelum diaktifkannya system kekebalan adaptif. Sel NK tidak bersifat fagositik. Sel-sel ini membunuh dengan cara menyerang membrane sel target dan melepaskan senyawa kimia yang disebut perforin.

• Protein anti mikroba
Protein anti mikroba meningkatkan pertahanan dalam tubuh dengan melawan mikroorganisme secara langsung atau dengan menghalangi kemampuannya untuk bereproduksi. Protein anti mikroba yang penting adalah interferon dan protein komplemen.
Interferon merupakan suatu protein yang dihasilkan oleh sel tubuh yang terinfeksi virus untuk melindungi bagian sel lain di sekitarnya. Interferon mampu menghambat perbanyakan sel-sel yang terinfeksi, namun dapat meningkatkan diferensiasi sel-sel.
Protein komplemen adalah sekelompok plasma protein yang bersirkulasi di darah dalam keadaan tidak aktif. Protein komplemen dapat diaktifkan oleh munculnya ikatan antigen dan antibody atau jika protein komplemen bertemu dengan molekul polisakarida di permukaan tubuh mikroorganisme.

2. imunitas adaptif
System ini diaktifkan oleh system imunitas bawaan. Imunitas adaptif mampu mengenali dan mengingat patogen spesifik sehingga dapat bersiap bila infeksi pathogen yang sama terjadi di kemudian hari. Contoh system imunitas adaptif yang penting adalah limfosit.

Limfosit
Limfosit akan berkembang menjadi dua jenis sel, sel T dan sel B.

Sel T umumnya bekerja melawan antigen sel eukariot, misalnya jamur atau sel manusia hasil transplantasi. Sel T juga dapat menghancurkan sel tubuh yang terinfeksi virus atau patogen lainnya dan dapat membunuh sel kanker. Sel B bekerja melawan antigen berupa bakteri dan racun yang masuk ke dalam tubuh.
Limfosit telah matang sebelum bertemu antigen yang akan di lawannya. Tetapi bukan antigen yang menentukan benda asing yang akan dilawan oleh limfosit, melainkan gen kitalah yang menentukan benda asing yang akan dilawan oleh limfosit. Antigen hanya akan menentukan jenis sel B atau T yang akan melawan benda asing tersebut.
Jika ada protein asing (antigen) masuk ke dalam tubuh, sel B yang telah terspesialisasi akan menghasilkan protein yang disebut antibody.
Zat antibody merupakan protein jenis immunoglobulin (Ig) yang bekerja dengan cara merespon antigen. Antibody hanya dibuat oleh plasma sel limfosit B. antibody terdiri atas rantai berat dan rantai ringan yang pada ujungnya terdapat tempat pengikatan antigen yang spesifik.
Antibody terdapat di dalam darah dan cairan tubuh yang dibentuk sebagai respons system kekebalan terhadap antigen asing. Antigen yang dikenali oleh sel limfosit B, limfosit T, dan makrofag akan merangsang pelepasan antibody ke dalam darah. Respons sel yang pertama terhadap antibody adalah pembentukan antibody IgM oleh sel, setelah itu baru pembentukan antibody tipe lain seperti IgG, IgA, IgD, dan IgE.
a. IgM
adalah antibody yang dihasilkan pada pemaparan awal oleh suatu antigen, contohnya jika seorang anak menerima vaksinasi tetanus i, maka 10-14 hari kemudian akan terbentuk antibody antitetanus IgM (respons antibody primer). IgM banyak terdapat di dalam darah, tetapi dalam keadaan normal tidak ditemukan di dalam organ maupun jaringan.
b. IgG
adalah jenis antibody yang dihasilkan pada pemaparan antigen berikutnya. Contohnya, setelah mendapatkan suntikan tetanus ii (booster), maka 5-7 hari kemudian seorang anak akan membentuk antigen IgG. Respons antibody sekunder ini lebih cepat dan lebih berlimpah dibandingkan dengan respons antibody primer. IgG di temukan dalam darah dan jaringan.
c. IgA
adalah antibody yang memegang peranan penting pada pertahanan tubuh terhadap masuknya mikroorganisme melalui permukaan yang dilapisi selaput lendir, yaitu hidung, mata, paru-paru, dan anus. IgA ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh (pada saluran pencernaan, hidung, mata, paru-paru, dan ASI).
d. IgE
adalah antibody yang menyebabkan reaksi alergi akut (reaksi alergi cepat).
e. IgD
adalah antibody yang terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam darah.

Zat antibody menghentikan aktivitas antigen penyebab penyakit dengan cara sebagai berikut.
a. menetralisir : mengikat antigen dan mencegahnya agar tidak mempengaruhi aktivitas sel-sel normal.
b. opsonisasi : menyiapkan antigen agar dapat dicerna oleh makrofag dengan cara melapisi permukaan antigen dengan antibody.
c. fiksasi komplemen : melubangi dan menghancurkan membran sel bakteri oleh antibody.

Zat antibody dapat keluar dari darah menuju ke cairan tubuh lainnya untuk mencegah infeksi pada permukaan mukosa, seperti pada usus halus dan paru-paru. Zat antibody juga dapat ditemukan pada air susu ibu.

sumber : buku biologi 2 for senior high school year xi : yudhistira , buku biologi untuk SMA kelas xi : erlangga

about this blog !

Sabtu, 20 Februari 2010

Tubuh kita setiap saat terpapar oleh bakteri, jamur, atau virus. Akan tetapi hanya sedikit yang dapat masuk ke dalam tubuh kita dan menimbulkan sakit. Mengapa demikian ? hal itu terjadi karena tubuh kita memiliki sistem pertahanan yang hebat. Apabila kita tidak memiliki pertahanan dan kekebalan tubuh, tubuh kita akan mudah terserang penyakit. Tahukah kamu bahwa di dalam tubuhmu terjadi peperangan setiap waktu ? musuh-musuh yang datang menyerangmu adalah bibit penyakit. Musuh ini dapat berdatangan dari segala tempat, bahkan dari udara yang kamu hirup dan benda-benda yang kamu sentuh. Akan tetapi, sering kali kamu tidak menyadari adanya peperangan di dalam tubuhmu. Hal ini terjadi karena sistem pertahanan tubuhmu sangat efektif sehingga kamu tidak langsung sakit jika ada kuman yang masuk.

Sebelum mempelajari sistem pertahanan tubuh kita, simak video peperangan yang terjadi di dalam tubuh kita (just for refreshing and to make you easier to understand the material). enjoy it !